Kamis, 05 Mei 2016

Penyebab dan Pengobatan Penyakit TBC

Tuberkulosis yang lebih sering disebut penyakit TBC adalah penyakit menular yang menyerang paru-paru dengan gejala utama batuk berdahak selama lebih dari 3 minggu. Terkadang batuk tersebut disertai dengan darah. Penderita TBC pada umumnya mengalami penurunan berat badan karena kehilangan nafsu makan, serta menderita demam dan mudah lelah.

Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang tersebar di udara, dan bakteri tersebut dikeluarkan melalui batuk, bersin, atau semburan air liur penderita TBC.  Mereka yang rentan terserang bakteri ini adalah: orang yang kekebalan tubuhnya menurun, seperti pengidap diabetes, HIV/AIDS atau mereka yang sedang menjalani kemoterapi. Selain itu, orang yang malnutrisi atau kekurangan gizi, orang-orang yang sering melakukan kontak dengan penderita TBC, para perokok,  pecandu minuman keras dan pengguna narkoba juga mudah tertular tuberkulosis.

Untuk mencegah serangan TBC dapat dilakukan dengan menggunakan vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin) yang merupakan vaksin wajib dalam daftar imunisasi yang harus diberikan pada bayi sebelum berumur 3 bulan. Vaksin BCG juga disarankan untuk diberikan kepada anak-anak, remaja dan orang dewasa yang saat masih bayi belum menerima vaksin tersebut. Namun perlu diingat bahwa efektivitas vaksin ini akan terus berkurang seiring dengan bertambahnya umur seseorang.

Selain dengan vaksin BCG, pencegahan juga dapat dilakukan dengan selalu mengenakan masker ketika berada di tempat-tempat umum, mencuci tangan secara teratur, dan apabila ada anggota keluarga yang menderita TBC usahakan untuk mengingatkan penderita tersebut agar selalu menutup mulut pada saat tertawa, bersin atau batuk, tidak tidur sekamar dengannya, dan pastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik.

Pengobatan Penyakit TBC
Untuk mengobati penyakit TBC, langkah pertama adalah memberikan antibiotik kepada penderita sesuai dengan resep dokter. Jenis-jenis antibiotik tersebut diantaranya adalah ethambutol, rifampicin, isoniazid dan pyrazinamide. Semua jenis antibiotik tersebut memiliki efek samping, rifampicin misalnya dapat mengurangi efektifitas alat kontrasepsi, ethambutol berpengaruh pada indera penglihatan, begitu juga dengan yang lain. 


Masa penyembuhan TBC tidak sama antara penderita yang satu dengan yang lain, tergantung dari tingkat keparahan TBC serta kondisi kesehatan dari penderita.  Jika pengobatan dilakukan secara rutin selama 2 – 3 minggu, penyakit TBC akan berhentiu menular. Namun demikian, untuk dapat sembuh total, pengobatan dengan menggunakan antibiotik harus dilakukan selama 6 – 9 bulan. (*)

0 komentar:

Poskan Komentar